INGATLAH.COM – Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero adalah salah satu situs sejarah yang unik di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, Indonesia.
Berlokasi di Kelurahan Tanah Lapang, Lembah Segar, museum ini terdiri dari dua bagian utama, yaitu Galeri Infobox dan Lubang Tambang Mbah Soero.
Tempat ini menjadi saksi bisu sejarah panjang industri pertambangan batu bara di Indonesia sekaligus menjadi ikon budaya dan wisata edukasi di Sawahlunto.
Museum ini pada awalnya merupakan bekas tempat penumpukan batu bara yang digali dari Lubang Tambang Mbah Soero.
Sebelum beralih fungsi menjadi museum, bangunan ini sempat digunakan sebagai gedung pertemuan buruh, tempat pertemuan karyawan, serta rumah bagi pekerja tambang yang bertugas di area tersebut.
Nama “Mbah Soero” sendiri berasal dari sosok fiktif yang diciptakan untuk melambangkan perjuangan dan kehidupan keras para pekerja tambang di masa lampau.
Sejarah Singkat Museum
Lubang Tambang Mbah Soero mulai dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1898 dan digunakan sebagai terowongan utama untuk aktivitas penambangan batu bara hingga tahun 1932.
Setelah lama tidak digunakan, pada tahun 2007 pemerintah setempat merenovasi terowongan ini untuk keperluan wisata, dengan tetap mempertahankan keasliannya.
Renovasi tersebut berlangsung dari Juni hingga Desember 2007, dan museum diresmikan sebagai objek wisata pada tanggal 23 April 2008.
Keaslian lubang tambang dapat dilihat dari dinding dan atapnya yang masih terbuat dari batu bara asli.
Museum ini sekarang dimiliki oleh PT Bukit Asam melalui mekanisme penyewaan lahan dari Pemerintah Kota Sawahlunto, dan dikelola langsung oleh pemerintah kota.
Dalam perkembangannya, museum ini tidak hanya menjadi pusat edukasi sejarah, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat.
Galeri Infobox
Salah satu daya tarik utama museum ini adalah Galeri Infobox, yang berfungsi sebagai pusat informasi mengenai sejarah pertambangan batu bara di Kota Sawahlunto.
Di dalam galeri ini, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi peninggalan sejarah, seperti rantai yang dulunya digunakan untuk mengikat kaki dan leher para pekerja tambang sebagai alat pengawasan.
Selain itu, terdapat pula koleksi alat kerja seperti palu yang digunakan oleh para pekerja pada masa lalu. Rantai dan alat-alat ini menjadi pengingat nyata akan kerasnya kehidupan para buruh tambang di masa kolonial.
Pada tahun 2016, sebuah penelitian dengan judul “Antara Mitos dan Realitas” dilakukan oleh Kantor Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto bersama Pusat Studi Humaniora Universitas Andalas Padang.
Penelitian ini membahas latar belakang figur “Mbah Soero” yang menjadi inspirasi nama museum.
Lubang Tambang Mbah Soero
Lubang Tambang Mbah Soero sendiri memiliki panjang 185 meter dan menjadi simbol perjuangan buruh tambang pada masa kolonial.
Sebagai bagian dari upaya melestarikan sejarah, pemerintah telah meningkatkan keamanan dan aksesibilitas terowongan dengan menambahkan tangga serta fasilitas lain untuk pengunjung.
Keunikan museum ini terletak pada orisinalitas struktur terowongan yang tetap dipertahankan, menjadikannya satu-satunya museum situs lubang tambang di Indonesia.
Kontribusi Sosial dan Budaya
Sebagai ikon Kota Sawahlunto, Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero memberikan banyak kontribusi, baik secara sosial, budaya, maupun ekonomi.
Selain menjadi daya tarik wisata utama, museum ini juga mendukung Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Pada masa pendudukan Jepang, lokasi tambang ini juga digunakan untuk melatih pemuda Sawahlunto dalam sektor pertambangan dengan mendirikan sekolah khusus.
Pendidikan ini tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis pertambangan, tetapi juga mencakup pelatihan militer seperti formasi baris-berbaris dan latihan menembak, dengan bahasa Jepang sebagai pengantar.
Museum Situs Lubang Tambang Mbah Soero tidak hanya menjadi pengingat akan masa lalu, tetapi juga menjadi simbol semangat pelestarian sejarah yang berdampak positif bagi generasi mendatang.
Keunikan dan nilai historisnya menjadikannya salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan panjang industri tambang di Indonesia. (*)





