INGATLAH.COM – Lemang adalah makanan tradisional khas Minangkabau, Sumatera Barat, yang terbuat dari beras ketan yang digulung dalam daun pisang dan dimasak dalam seruas bambu.
Makanan ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menyimpan sejarah dan tradisi yang kaya.
Asal Usul Lemang
Lemang pertama kali dibuat oleh Syekh Burhanuddin, seorang ulama asal Pariaman, saat melakukan perjalanan untuk menyebarkan ajaran Islam di daerah pesisir Minangkabau, seperti di Ulakan dan Pariaman.
Dalam kunjungannya, Syekh Burhanuddin sering ditawarkan makanan oleh penduduk setempat, namun ia meragukan kehalalan makanan yang ditawarkan, mengingat masyarakat saat itu belum sepenuhnya memahami aturan makanan halal dan haram.
Untuk mengatasi hal tersebut, Syekh Burhanuddin mengajarkan cara memasak nasi dalam bambu yang belum tersentuh siapapun, lalu bambu tersebut dilapisi daun pisang untuk menghindari nasi terkena serbuk bambu.
Awalnya, ia menggunakan beras biasa, tetapi karena tidak tahan lama, ia menggantinya dengan beras ketan yang lebih awet.
Lama kelamaan, masyarakat sekitar menjadikan cara memasak lemang ini sebagai tradisi yang disebut dengan istilah malamang.
Dalam tradisi ini, masyarakat bergotong-royong untuk mencari bambu, kayu bakar, dan bahan lainnya untuk membuat lemang, yang kemudian dinikmati bersama dalam acara-acara khusus.
Proses Pembuatan Lemang
Proses pembuatan lemang dimulai dengan mencampurkan beras ketan dengan santan kelapa, kemudian dimasukkan ke dalam bambu dan dibakar hingga matang.
Makanan ini biasanya disajikan saat berbuka puasa atau pada perayaan Idul Fitri dan Idul Adha. Meskipun demikian, lemang tetap dapat ditemukan di hari-hari biasa sebagai hidangan tradisional.
Bahan-bahan pembuatan lemang sangat sederhana, hanya beras ketan dan santan kelapa. Penggunaan beras ketan sangat penting karena hanya dengan bahan ini, lemang dapat memiliki rasa yang netral, yang cocok dinikmati dengan tambahan rasa manis atau asin.
Lemang kini bukan hanya sekadar hidangan khas, tetapi juga bagian dari tradisi kuliner yang kaya dan menjadi simbol kebersamaan di masyarakat Minangkabau. (*)





