Berita

Inisiatif Baznas Sumbar, Membuka Akses Al-Qur’an bagi Siswa Tunarungu

×

Inisiatif Baznas Sumbar, Membuka Akses Al-Qur’an bagi Siswa Tunarungu

Sebarkan artikel ini
Baznas Sumbar. (Foto: Istimewa)
Baznas Sumbar. (Foto: Istimewa)

INGATLAH.COM – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Sumatera Barat (Sumbar) menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan agama Islam bagi siswa penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara.

Langkah ini diwujudkan melalui pelatihan Bahasa Isyarat bagi guru Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Sumbar, yang digelar pada Sabtu (7/12) di Whiz Hotel Padang.

Wakil Ketua III Baznas Sumbar, Firdaus, menegaskan pentingnya pelatihan ini untuk membantu siswa disabilitas memahami Al-Qur’an.

“Sebagian siswa mungkin sudah bisa membaca tulisan latin, tetapi belum semuanya mampu membaca mushaf Al-Qur’an. Oleh karena itu, kami memberikan pelatihan kepada para guru agar mereka dapat mengajarkan kemampuan ini kepada siswa,” ujar Firdaus.

Baca Juga  Ubed Menang Dua Gim Langsung, Tantang Alwi Farhan di Final SEA Games

Program Berkelanjutan untuk Pendidikan Disabilitas

Firdaus menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan yang pertama di Sumbar dan menjadi bagian dari program utama Baznas RI.

Pelatihan ini juga mencakup teknik penggunaan Bahasa Isyarat untuk membaca Al-Qur’an dan tilawah.

“Kami juga mengadakan pelatihan micro training (ToT) bagi para guru, yang nantinya diharapkan dapat mengaplikasikan pengetahuan tersebut di sekolah masing-masing dengan dukungan Baznas,” jelas Firdaus.

Pelatihan perdana ini diikuti oleh 30 peserta, terdiri dari guru-guru SLB dan penyandang tunarungu. Baznas Sumbar berharap program ini bisa terus berlanjut agar manfaatnya semakin meluas.

Baca Juga  Akhir Pelarian Man Patin Cs, Jaringan Pengedar Sabu di Air Molek Dibekuk Polisi

Imral Rizal, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dari SLBN 2 Padang, mengapresiasi pelatihan ini.

Menurutnya, kegiatan serupa masih sangat minim sehingga kehadiran program ini menjadi angin segar bagi para guru dan siswa.

“Kami sangat terbantu dengan pelatihan ini, terutama untuk pengaplikasian dalam pembelajaran. Panduan yang ada saat ini cukup terbatas, sehingga pelatihan langsung seperti ini sangat kami perlukan,” ujar Imral.

Ia berharap program ini dapat terus ditingkatkan, baik dari segi frekuensi maupun cakupannya, demi mendukung efisiensi pembelajaran agama Islam bagi siswa penyandang disabilitas. (*)