INGATLAH.COM — Calon Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, yang akrab disapa Buya, mengajak Kelompok Wanita Tani (KWT) Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, untuk berinovasi dalam mengembangkan potensi lokal demi meningkatkan pendapatan keluarga.
Dalam kunjungan pada Minggu (27/10), Mahyeldi mengungkapkan pengalamannya dalam memanfaatkan lahan di Istana Gubernuran untuk kegiatan beternak dan budidaya madu sebagai contoh usaha mandiri yang bisa dicontoh masyarakat.
“Saya di Istana Gubernuran saja beternak itik. Setiap pagi, itik-itik tersebut bertelur hingga 25 butir. Jika dijual dengan harga Rp3.000 per butir, penghasilan ini bisa membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujar Mahyeldi.
Selain itu, ia juga memiliki lima hingga tujuh sarang lebah madu jenis Galo-galo di rumah dinasnya. Hasil madunya, kata Mahyeldi, dapat dikonsumsi sendiri atau dijual, dan setiap bulan dapat menghasilkan puluhan mililiter madu tanpa biaya produksi tinggi.
Mahyeldi menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendukung usaha kecil di bidang pertanian dan peternakan bagi masyarakat desa.
Ia mendorong agar KWT dan kelompok tani lainnya berkolaborasi dengan Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, dan Dinas Pangan untuk mendapatkan dukungan yang tepat.
“Kelompok seperti KWT ini perlu didukung, karena melalui usaha kreatif seperti ini kita bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga,” katanya.
Mahyeldi juga memberikan contoh daerah yang berhasil memanfaatkan potensi lokal sebagai destinasi wisata kuliner, seperti kawasan Simpang Pinyaram di Padang Pariaman.
Ia menyarankan KWT Sungai Tarab untuk memanfaatkan peluang usaha serupa, seperti menjual kerupuk ubi dan jagung yang dapat menarik minat pengunjung yang melintasi daerah tersebut.
“Jika di sepanjang jalan ada yang berjualan kerupuk ubi, pasti akan menjadi daya tarik bagi orang yang lewat dan membantu perekonomian warga sekitar,” ujar Mahyeldi.
Dalam pandangan Mahyeldi, konsep “satu kampung satu produk” layak dikembangkan agar setiap desa memiliki produk unggulan yang menjadi ciri khas dan dapat dipasarkan lebih luas.
Ia juga mengajak KWT untuk membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) agar potensi wisata lokal dapat digarap dengan lebih maksimal.
Dengan dukungan dari berbagai instansi pemerintah, ia optimistis usaha kreatif ini dapat memberi manfaat jangka panjang bagi ekonomi keluarga dan kesejahteraan masyarakat di masa mendatang.
Lebih lanjut, Mahyeldi membuka peluang bagi KWT Sungai Tarab untuk mengajukan bantuan modal usaha ke Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
“Silakan ajukan bantuan kepada dinas terkait, baik untuk bibit pertanian, ikan, maupun lainnya. Kami siap mendukung,” ujar Mahyeldi, yang menargetkan program pengembangan ekonomi berbasis desa dapat berjalan hingga tahun 2030.
Ia menutup pertemuan dengan harapan agar ibu-ibu KWT di Sungai Tarab dapat terinspirasi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui usaha kreatif dan produktif. (*)





