INGATLAH.COM – Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Sebanyak 237 siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan tersebut.
Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyoroti koordinasi antara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai pengelola dapur MBG dengan instansi terkait, khususnya Dinas Kesehatan.
Menurut Mahyeldi, koordinasi yang lebih baik diperlukan agar potensi persoalan dalam penyediaan makanan MBG dapat diantisipasi sejak awal.
“Kita harapkan kejadian ini tidak boleh terjadi. Seandainya dapur MBG berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pihak lainnya, insiden ini bisa diantisipasi,” kata Mahyeldi, Rabu (2/9/2026).
Data sementara yang dihimpun dari Puskesmas Palupuh dan 13 Puskesmas Pembantu (Pustu) di wilayah sekitar mencatat 237 siswa dan guru mengalami gejala dugaan keracunan setelah menyantap menu MBG.
Sebagai langkah pencegahan agar jumlah korban tidak bertambah, Mahyeldi meminta operasional dapur SPPG yang menyediakan makanan MBG di lokasi kejadian dihentikan sementara.
Dapur tersebut diminta diamankan dan menjalani pemeriksaan untuk mengetahui sumber persoalan.
“Untuk sekarang ini harus ditutup, dihentikan. Diamankan dulu, kemudian diperiksa segala sesuatunya untuk memastikan di mana masalahnya. Baru nanti ditindaklanjuti. Ini menjadi pembelajaran bagi dapur-dapur lainnya,” tegasnya.
Pemprov Sumbar bersama Dinas Kesehatan juga terus memantau kondisi para korban dan perkembangan penanganan di lapangan.
Mahyeldi berharap para siswa dan guru yang mengalami gejala tidak mengalami dampak serius terhadap kondisi kesehatan mereka.
Terkait rencana mengunjungi korban yang masih mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan, Mahyeldi mengatakan pihaknya akan menyesuaikan dengan perkembangan situasi.
“Nanti akan kita lihat bagaimana perkembangan informasinya,” ujarnya.
Jumlah korban dugaan keracunan tersebut masih berpotensi bertambah. Sebab, terdapat warga dan siswa yang mengalami gejala serupa tetapi memilih menjalani pengobatan secara mandiri.
Sementara itu, Dinas Kesehatan bersama kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kejadian.
Sampel makanan dari dapur penyedia MBG juga telah diperiksa sebagai bagian dari proses penyelidikan.
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat mengungkap penyebab pasti munculnya gejala keracunan pada ratusan siswa dan guru tersebut





