INGATLAH – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatra Barat mencatat jumlah simpanan pelajar melalui program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) terus mengalami pertumbuhan hingga semester I 2026.
Kepala OJK Sumbar Roni Nazra mengatakan, hingga saat ini terdapat sekitar 1,48 juta rekening pelajar dengan total dana yang tersimpan mencapai Rp262,48 miliar.
Data tersebut disampaikan Roni dalam kegiatan Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) 2026 di Sumatra Barat, Jumat (21/8/2026) kemarin.
Menurutnya, pertumbuhan jumlah rekening dan nilai tabungan tersebut menunjukkan semakin tingginya kesadaran pelajar untuk mulai menabung dan mengenal layanan keuangan sejak usia dini.
“Sejauh ini jumlah simpanan pelajar mencapai 1,48 juta rekening dengan total simpanan mencapai Rp262,48 miliar,” kata Roni.
OJK, lanjut dia, akan terus mendorong peningkatan budaya menabung di kalangan pelajar. Kebiasaan tersebut dinilai penting karena dapat membentuk perilaku keuangan yang sehat sekaligus membantu pelajar mempersiapkan kebutuhan pendidikan pada masa mendatang.
“Kalau nilai tabungan ini terus meningkat, di satu sisi dapat mengajarkan kepada pelajar bahwa dana tabungan itu nantinya dapat dipergunakan untuk keperluan melanjutkan jenjang pendidikan berikutnya,” ujarnya.
Gubernur Sumatra Barat Mahyeldi menilai budaya menabung perlu dibangun sejak usia dini. Menurutnya, kebiasaan menyisihkan uang secara rutin dapat membentuk generasi yang lebih mandiri dalam mengelola keuangan.
Mahyeldi juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pelaku usaha jasa keuangan dalam memperluas literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
“Kami akan terus mendukung Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat, termasuk mendorong berbagai inovasi produk dan layanan keuangan agar semakin terjangkau, cepat, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Ia juga meminta dukungan orang tua dan guru agar memberikan motivasi kepada pelajar untuk membiasakan diri menabung.
Bagi pelajar yang belum memiliki rekening tabungan, Mahyeldi mendorong sekolah mencari alternatif agar seluruh siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses layanan keuangan.
“Sekarang hasilnya sudah terlihat. Selanjutnya perlu ditingkatkan lagi, dan dengan hal ini ke depan masa depan pelajar bisa lebih baik,” ujarnya.





