INGATLAH.COM – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Pekanbaru memperkuat pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Provinsi Riau.
Langkah tersebut dilakukan dengan mengubah pola pengawasan yang sebelumnya cenderung reaktif menjadi lebih preventif, melalui edukasi, komunikasi risiko dan pemberdayaan seluruh ekosistem sekolah.
Pendekatan ini dinilai penting untuk mencegah potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan yang dapat terjadi akibat berbagai faktor, mulai dari buruknya higiene dan sanitasi, kontaminasi bahan baku hingga pertumbuhan bakteri pada makanan.
Kepala BBPOM di Pekanbaru, Sofiyani Candrawati Anwar, mengatakan pengawasan keamanan pangan tidak boleh hanya dilakukan setelah makanan siap dikonsumsi.
“Langkah ini guna mencegah terjadinya kejadian luar biasa seperti keracunan pangan, kontaminasi bahan baku dan pertumbuhan bakteri di makanan,” ujar Sofiyani, Rabu (12/8/2026).
Hadirkan Inovasi ENCIKPUAN
Sebagai bagian dari upaya pencegahan, BBPOM di Pekanbaru meluncurkan inovasi ENCIKPUAN, singkatan dari Edukasi dan Coaching Informasi Keamanan Pangan MBG Untuk Anak Negeri.
Program tersebut dirancang dengan pendekatan preventif, partisipatif, edukatif, terukur dan berkelanjutan.
Sofiyani menjelaskan, ENCIKPUAN bertujuan membangun kesadaran serta pemahaman bersama mengenai pentingnya penerapan standar keamanan pangan dalam seluruh tahapan penyediaan MBG.
“Inovasi ENCIKPUAN dirancang dengan pendekatan preventif, partisipatif, edukatif, terukur, dan berkelanjutan. Program ini bertujuan membangun kesadaran serta pemahaman bersama mengenai pentingnya standar keamanan pangan di seluruh tahapan penyediaan MBG,” jelasnya.
Melalui pola pengawasan tersebut, BBPOM di Pekanbaru tidak hanya memeriksa makanan ketika sudah siap disajikan kepada siswa. Pengawasan dilakukan dengan memperhatikan rantai pasok bahan pangan, proses pengolahan hingga makanan tiba di sekolah dan dikonsumsi oleh peserta didik.
Dengan demikian, potensi risiko keamanan pangan diharapkan dapat diidentifikasi lebih awal dan segera dilakukan langkah pencegahan.
Libatkan Seluruh Ekosistem MBG
BBPOM di Pekanbaru juga mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam memastikan keamanan pangan program MBG.
Sekolah, pengelola MBG, mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) hingga pemangku kepentingan terkait ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem yang memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya masalah keamanan pangan.
Pelaksanaan ENCIKPUAN juga mengedepankan kolaborasi melalui skema pendanaan antara mitra SPPG dengan BPOM.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi sekaligus menciptakan efisiensi dan optimalisasi anggaran operasional dalam pelaksanaan pengawasan.
“Dengan pengawasan yang dilakukan secara terpadu, BBPOM di Pekanbaru berupaya membangun sistem keamanan pangan MBG yang lebih kuat. Setiap tahapan menjadi perhatian agar potensi risiko dapat dikenali dan dicegah sebelum menimbulkan masalah,” ungkap Sofiyani.
Menurutnya, pendekatan preventif menjadi bagian penting untuk memastikan makanan yang dikonsumsi anak-anak tidak hanya memiliki nilai gizi, tetapi juga memenuhi standar keamanan pangan.
Pengawasan sejak dari hulu hingga hilir diharapkan dapat meminimalkan risiko kontaminasi dan berbagai faktor yang berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan akibat pangan.
Melalui inovasi ENCIKPUAN, BBPOM di Pekanbaru berharap pelaksanaan program MBG di Riau dapat berjalan semakin aman dan berkualitas.
Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga memastikan setiap makanan yang sampai ke tangan siswa dalam kondisi aman dan layak dikonsumsi.
Dengan penguatan edukasi, komunikasi risiko dan kolaborasi seluruh pihak, BBPOM di Pekanbaru berkomitmen membangun budaya keamanan pangan sejak dini sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi penerus bangsa di Provinsi Riau.





