INGATLAH.COM – Di balik peristiwa tragis serangan Harimau Sumatera di Kabupaten Pelalawan, tersimpan kisah pilu seorang pekerja muda bernama Eko Prastio (29).
Ia ditemukan sudah tak bernyawa setelah diduga menjadi korban keganasan satwa dilindungi tersebut.
Eko merupakan pekerja di salah satu areal PBPH di Kecamatan Pelalawan.
Sehari-hari, ia menjalani aktivitas seperti pekerja lapangan lainnya, tinggal di mess bersama rekan-rekannya dan bekerja di kawasan yang berbatasan langsung dengan habitat satwa liar.
Malam itu, Jumat (10/7/2026), Eko sempat berpamitan kepada rekan satu kamarnya sekitar pukul 19.15 WIB.
Ia mengatakan hendak mencari sinyal telepon, sesuatu yang biasa dilakukan para pekerja di kawasan tersebut.
Tujuannya sederhana, yakni untuk mengirim informasi terkait rencana pekerjaan keesokan hari melalui grup WhatsApp.
Namun siapa sangka, aktivitas rutin tersebut justru menjadi awal dari tragedi.
Hingga menjelang tengah malam, Eko tidak kunjung kembali ke mess.
Rekan-rekannya mulai merasa khawatir, terlebih kondisi kawasan yang dikenal sebagai habitat Harimau Sumatera.
Pencarian pun dilakukan secara mandiri oleh rekan kerja bersama seorang karyawan lain dan petugas keamanan perusahaan.
Mereka menuju lokasi yang biasa digunakan Eko untuk mencari sinyal.
Di tempat itu, mereka menemukan sandal dan headset milik korban.
Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah adanya ceceran darah dalam jumlah cukup banyak, serta bekas seretan yang mengarah ke semak-semak.
Temuan tersebut langsung dilaporkan kepada Tim WRU BBKSDA Riau yang saat itu memang sedang berada tidak jauh dari lokasi.
Tak butuh waktu lama, tim gabungan turun ke lokasi dan melakukan pencarian intensif.
Setelah melalui proses penyisiran yang cukup panjang, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.
Kisah Eko menjadi gambaran nyata risiko yang dihadapi para pekerja yang beraktivitas di kawasan hutan.
Aktivitas sederhana seperti mencari sinyal telepon di malam hari ternyata bisa berujung fatal ketika berada di habitat satwa liar.
Pelaksana Harian Kepala BBKSDA Riau, Laskar Jaya Permana, mengingatkan bahwa kawasan tersebut merupakan habitat alami Harimau Sumatera yang dilindungi, sehingga potensi konflik selalu ada.
Ia mengimbau agar para pekerja tidak beraktivitas seorang diri, terutama pada malam hari, serta selalu memperhatikan prosedur keselamatan yang telah ditetapkan.
Perusahaan juga diminta untuk meningkatkan pengamanan dan memastikan seluruh pekerja memahami risiko yang ada di lapangan.
Kepergian Eko Prastio menjadi duka mendalam, sekaligus peringatan bagi semua pihak bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas di kawasan hutan.
Di sisi lain, upaya konservasi terhadap Harimau Sumatera tetap harus berjalan, sehingga diperlukan keseimbangan antara perlindungan manusia dan kelestarian satwa liar.
Pelaksana Harian Kepala BBKSDA Riau, Laskar Jaya Permana, mengungkapkan bahwa tim Wildlife Rescue Unit (WRU) yang telah berada di lapangan sejak 7 Juli langsung bergerak cepat begitu menerima laporan adanya dugaan serangan harimau terhadap seorang pekerja.
“Laporan kami terima pada dini hari dari petugas keamanan perusahaan terkait hilangnya seorang pekerja. Tim gabungan langsung turun melakukan observasi dan pencarian,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Berdasarkan hasil penelusuran awal di lokasi, petugas menemukan sejumlah barang milik korban, seperti sandal dan headset.
Selain itu, ditemukan pula ceceran darah dalam jumlah cukup banyak serta bekas seretan yang mengarah ke area semak-semak.
Temuan tersebut semakin menguatkan dugaan bahwa korban menjadi sasaran serangan Harimau Sumatera.
Di sekitar lokasi, tim juga menemukan jejak kaki harimau dengan ukuran cukup besar, yang diperkirakan milik individu dewasa.
Setelah dilakukan pencarian intensif, korban akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dalam semak-semak, dengan jarak sekitar 650 meter dari titik awal ia diduga diserang.
Menariknya, lokasi kejadian ini diketahui hanya berjarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi serangan harimau sebelumnya.





