PEKANBARU – Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah mulai memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan meningkat pada tahun 2026.
Kesiapsiagaan dini dinilai menjadi kunci utama guna mencegah bencana asap seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa seluruh pihak harus meningkatkan kewaspadaan menyusul proyeksi musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena iklim global.
Pernyataan tersebut disampaikan saat apel kesiapsiagaan karhutla yang dihadiri lintas kementerian dan lembaga, unsur TNI-Polri, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga jajaran Forkopimda.
Menurut Hanif, apel tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari strategi nasional awal dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan di berbagai wilayah Indonesia.
“Kegiatan ini kita maknai sebagai rangkaian persiapan awal penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di seluruh tanah air,” ujarnya, Sabtu (25/4/2026).
Kemarau Lebih Panjang, Risiko Karhutla Meningkat
Berdasarkan proyeksi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indonesia diperkirakan mengalami musim kemarau lebih panjang dibanding tahun sebelumnya.
Jika pada 2025 kemarau berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan, maka pada tahun ini durasinya diproyeksikan mencapai hingga tujuh bulan. Sejumlah wilayah bahkan mulai memasuki musim kemarau sejak April, dengan puncak diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus dan berakhir sekitar Oktober.
Fenomena iklim global seperti El Nino di Samudra Pasifik dan Hindia turut memperparah kondisi tersebut. Curah hujan tahun ini bahkan diprediksi menjadi salah satu yang terendah sejak periode kebakaran besar 1996–1997.
“Kita tentu tidak ingin kejadian kebakaran besar di masa lalu kembali terulang,” tegas Hanif.
Riau Jadi Wilayah Prioritas
Salah satu daerah yang menjadi perhatian serius pemerintah adalah Provinsi Riau. Wilayah ini memiliki bentang lahan gambut yang luas, hampir mencapai separuh dari total daratan, sehingga sangat rentan terbakar saat musim kemarau.
Hanif menjelaskan, keberadaan lebih dari 13 ribu kilometer kanal mempercepat pengeringan gambut ketika kemarau panjang terjadi. Di sejumlah lokasi, tinggi muka air gambut bahkan sudah berada pada level rawan, yakni kurang dari 80 sentimeter.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan potensi kebakaran jika tidak diantisipasi sejak dini.
Kolaborasi Jadi Kunci Pencegahan
Pemerintah menekankan bahwa penanganan karhutla tidak dapat dilakukan secara parsial. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia usaha, hingga masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan pencegahan.
Hanif mengingatkan agar kegiatan kesiapsiagaan tidak berhenti pada apel semata, tetapi diikuti langkah operasional nyata hingga tingkat daerah.
“Kami berharap ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial. Perlu langkah taktis dan koordinasi intensif di lapangan,” ujarnya.
Pemerintah daerah diminta segera memetakan kawasan rawan, termasuk wilayah dengan penurunan muka air gambut serta area yang belum terpantau optimal.
Perusahaan dan Masyarakat Diminta Aktif
Pemerintah juga mendorong perusahaan pemegang konsesi kehutanan dan perkebunan kelapa sawit untuk mengambil peran aktif melalui pembentukan brigadir api dan penguatan kelompok Masyarakat Peduli Api di wilayah rawan kebakaran.
Peran TNI dan Polri dinilai strategis dalam pembinaan, pengawasan, serta penguatan koordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan organisasi perangkat daerah lainnya.
Pencegahan Lebih Efisien
Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya biaya operasional, Hanif menegaskan bahwa pencegahan dini jauh lebih efisien dibandingkan pemadaman saat kebakaran telah meluas.
Menurutnya, kesiapan sejak awal dapat menekan biaya besar yang biasanya muncul saat operasi pemadaman, terutama dengan meningkatnya harga bahan bakar dan logistik.
“Kebakaran hutan dan lahan adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan persiapan matang dan gerak cepat, kita optimistis potensi karhutla tahun ini dapat ditekan,” pungkasnya.





