INGATLAH.COM – Peringatan Hari Kartini 2026 di lingkungan Kejaksaan Tinggi Riau tidak sekadar menjadi seremoni tahunan.
Semangat emansipasi perempuan justru tercermin nyata dalam sosok Asisten Pengawasan (Aswas), Dwi Astuti, yang menjalankan tugas pengawasan dengan ketegasan, empati, dan integritas di tengah dominasi kepemimpinan laki-laki.
Bagi Dwi Astuti, Hari Kartini bukan hanya momentum mengenang sejarah, tetapi pengingat untuk terus menghadirkan profesionalisme dan keberanian dalam menjalankan tanggung jawab sebagai aparat penegak hukum.
“Kartini bukan sekadar simbol. Ia menjadi inspirasi agar perempuan mampu berperan aktif, profesional, dan memberi dampak nyata bagi institusi,” ujarnya.
- Semangat Kartini di Dunia Penegakan Hukum
Lebih dari satu abad sejak perjuangan Raden Ajeng Kartini, Dwi menilai nilai kesetaraan dan keadilan tetap relevan, khususnya dalam sistem penegakan hukum modern.
Menurutnya, semangat Kartini kini hadir dalam bentuk perjuangan substantif menghadirkan hukum yang adil tanpa diskriminasi.
Ia melihat perkembangan positif di tubuh kejaksaan, di mana semakin banyak jaksa perempuan dipercaya menangani perkara strategis hingga menduduki jabatan penting, mulai dari Kepala Kejaksaan Negeri hingga Kepala Kejaksaan Tinggi.
“Perempuan hari ini tidak hanya hadir, tetapi ikut menentukan arah kebijakan dan pelayanan publik,” katanya.
- Menembus Dominasi, Membangun Kepercayaan
Perjalanan karier Dwi Astuti tidak selalu mudah. Saat menjabat Kepala Kejaksaan Negeri di dua daerah berbeda, ia pernah menjadi satu-satunya perempuan dalam jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Kini di Kejati Riau, ia kembali berada pada posisi serupa sebagai satu-satunya asisten perempuan.
Pengalaman tersebut membentuk gaya kepemimpinan yang inklusif namun tetap tegas.
Ia mengakui pernah menghadapi stereotip bahwa pendekatan kekeluargaan identik dengan kelemahan kepemimpinan.
Namun bagi Dwi, justru kepercayaan dan komunikasi terbuka mampu menciptakan tim kerja yang solid sekaligus profesional.
“Lingkungan kerja yang saling percaya akan menghasilkan kinerja pengawasan yang kuat,” ungkapnya.
Untuk membangun kredibilitas, ia menekankan pentingnya penguasaan substansi hukum, komunikasi efektif, serta konsistensi menjaga etika profesi.
Dalam lingkungan kerja yang masih didominasi laki-laki, perempuan memang harus bekerja lebih keras, namun hal itu dianggapnya sebagai peluang membuktikan kapasitas diri.
- Kepemimpinan Humanis dan Objektif
Dalam menjalankan fungsi pengawasan, Dwi mengedepankan keseimbangan antara pendekatan humanis dan ketegasan.
Ia membuka ruang diskusi bagi anggota tim, mendorong penyelesaian masalah secara kolektif, namun tetap memastikan standar profesional tetap terjaga.
Menurutnya, perbedaan perspektif antara laki-laki dan perempuan justru menjadi kekuatan dalam pengambilan keputusan.
“Jika sudut pandang analitis dan empati digabungkan, keputusan akan lebih komprehensif,” jelasnya.
Sebagai Asisten Pengawasan, ia juga menegaskan bahwa setiap keputusan harus berbasis fakta, data, kode etik, serta standar operasional prosedur.
“Pengawasan harus bebas dari kepentingan pribadi maupun tekanan internal,” tegasnya.
- Di Balik Jabatan, Perjuangan Seorang Ibu
Di balik jabatan strategis yang diembannya, Dwi Astuti juga menjalani peran sebagai orang tua tunggal bagi dua anaknya.
Menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga menjadi tantangan terbesar yang harus dihadapinya.
Meski anak-anaknya menempuh pendidikan di Jakarta dan Semarang, komunikasi yang terjaga membuat hubungan keluarga tetap erat.
Bagi Dwi, keberhasilan karier harus berjalan seiring dengan keberhasilan keluarga.
“Kesuksesan saya harus sejalan dengan kesuksesan anak-anak saya,” tuturnya.
- Kartini Masa Kini
Dwi Astuti meyakini emansipasi perempuan masa kini bukan sekadar tuntutan kesetaraan, melainkan kemampuan memaksimalkan potensi tanpa meninggalkan peran sosial dan keluarga.
Ia percaya kehadiran perempuan dalam institusi penegak hukum akan memperkuat sistem yang lebih adil, humanis, dan responsif.
Ia pun berpesan kepada generasi muda perempuan yang ingin berkarier di bidang hukum untuk membangun fondasi akademik kuat, menjaga integritas, serta memiliki ketahanan mental.
Dalam semangat Hari Kartini 2026, sosok Dwi Astuti menjadi potret Kartini masa kini perempuan yang tidak hanya menjaga disiplin dan integritas lembaga, tetapi juga meneruskan api perjuangan emansipasi dalam wajah kepemimpinan yang modern, tegas, dan humanis.





