INGATLAH – Gema azan berirama Timur Tengah memecah sunyi di balik tembok tinggi Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pekanbaru, Jumat (20/2/2026) malam.
Suara itu mengalun lembut, menembus lorong-lorong sempit, menyentuh ruang-ruang hening yang selama ini lebih akrab dengan bunyi pintu besi dan langkah petugas.
Ini bukti bahwa Ramadan datang bukan hanya menyapa masjid-masjid megah di tengah kota.
Ia juga merambat hangat hingga ke balik jeruji, membawa cahaya ke tempat yang sering dianggap gelap.
Pantauan Ingatlah.com, malam itu diantara sinar lampu yang temaram satu per satu Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) bangkit dan berjalan dari dari blok huniannya.
Mereka datang dengan baju, peci dan sarung terbaik yang mereka miliki, langkah mereka tertib menuju Masjid At-Taubah satu-satunya masjid di dalam Lapas Kelas IIA Pekanbaru.
Di atas tikar sederhana dan lantai yang dingin, saf-saf dengan cepat tersusun rapat jelang suara azan usai.
Tak ada sekat masa lalu. Tua dan muda berdiri sejajar, menyatu dalam rukuk dan sujud yang sama melepas beragam masalah.
Salat Isya dan Tarawih berlangsung khusyuk. Bacaan imam menggema, disambut lirih “aamiin” yang serempak.
Namun suasana Ramadan tak berhenti di sana. Ketika sebagian kembali ke blok, sejumlah WBP memilih bertahan, menanti sepertiga malam untuk menegakkan qiamullail.
Dalam hening yang lebih dalam, ratusan tangan terangkat bersamaan. Doa-doa dipanjatkan pelan, penuh harap.
Usai berdoa, tangan-tangan itu menyapu wajah dengan lembut. Beberapa kepala tertunduk lebih lama.
Di bulan magfirah ini, penyesalan perlahan bertransformasi menjadi tekad.
Ramadan di lapas bukan sekadar rutinitas ibadah. Ia menjadi ruang kontemplasi, ruang untuk memulai kembali.
Kepala Lapas Pekanbaru, Yuniarto, turut menyatu dalam saf. Tanpa jarak jabatan, ia berdiri sebagai makmum bersama para warga binaan.
Menurutnya, sekitar 700 warga binaan Muslim mengikuti rangkaian ibadah Isya dan Tarawih malam itu, dari total lebih dari seribu penghuni Muslim di lapas tersebut.
“Alhamdulillah, malam ini sekitar 700 warga binaan mengikuti Salat Isya dan Tarawih. Antusiasme mereka sangat tinggi dan semuanya hadir tanpa paksaan,” ujarnya di sela kegiatan.
Baginya, Ramadan adalah momentum pembinaan rohani yang sangat berarti. Namun pembinaan di lapas tidak berhenti pada aspek spiritual.
“Siang harinya, para WBP tetap menjalani program kemandirian. Ada yang belajar berkebun, membudidayakan ikan, beternak ayam petelur, membuat kerajinan tangan, hingga mengolah sampah menjadi pupuk organik,” ungkap Yuniarto.
Aktivitas itu bukan sekadar mengisi waktu, melainkan bekal agar saat kembali ke masyarakat, mereka membawa keterampilan nyata.
“Pembinaan ini kami siapkan agar mereka punya bekal hidup. Ketika bebas nanti, mereka tidak hanya membawa niat baik, tetapi juga kemampuan untuk mandiri,” jelas Yuniarto.
Di luar tembok, aparat TNI dan Polri berjaga memastikan keamanan. Namun di dalam, yang paling terasa justru penjagaan terhadap harapan.
Dalam waktu dekat, pihak lapas juga berencana menggelar buka puasa bersama warga binaan dan keluarga mereka.
“InsyaAllah akan kami laksanakan dalam waktu dekat. Semoga berjalan tertib dan memberi kebahagiaan bagi warga binaan,” tambahnya.
Ramadan di balik jeruji bukan tentang keterbatasan. Ia adalah tentang kesempatan kedua. Di tempat yang kerap dipandang sebagai akhir perjalanan, justru tumbuh awal yang baru.
Bagi sebagian orang, gema azan mungkin terdengar biasa. Namun bagi ratusan jiwa di dalam lapas itu, ia adalah panggilan untuk bangkit panggilan untuk berubah.
Di bulan pengampunan ini, mereka tengah merajut masa depan dengan doa-doa panjang.
Berharap suatu hari kembali ke keluarga dengan hati yang lebih bersih, tekad yang lebih kuat, dan semangat hidup yang ditempa oleh Ramadan.





