INGATLAH.COM – Di tengah hiruk-pikuk persiapan aksi demonstrasi besar di depan Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Kamis (20/11/2025), sebuah pemandangan tak biasa muncul dan seketika menyita perhatian massa.
Sebelum orasi dimulai dan sebelum spanduk tuntutan diangkat tinggi, dua polisi wanita dari Polresta Pekanbaru yaitu Bripda Afifah dan Bripda Nela, maju ke depan barisan massa.
Dengan penuh percaya diri, keduanya berdiri tegap mengambil sikap, bukan untuk mengatur kerumunan, melainkan menjadi konduktor lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Gerakan tangan mereka yang tegas namun lembut membuat ratusan orang yang hadir mendadak hening.
Massa yang semula sibuk menyusun barisan dan membentangkan spanduk, serempak mengikuti aba-aba dari dua polwan muda itu.
Suara Indonesia Raya pun membahana di jalan raya depan Kantor Kejati Riau, menyatukan aparat dan peserta aksi dalam satu ruang yang sama yaitu ruang kebangsaan.
Beberapa peserta aksi terlihat mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka.
Ada yang tersenyum bangga, ada yang menatap haru, dan ada pula yang berdiri tegak sambil mengepalkan tangan di dada.
Momen singkat itu menjadi jeda yang membuat suasana demonstrasi terasa lebih hangat, sebelum gelombang orasi kembali menggema.
Informasi yang dihimpun ingatlah.com menyebutkan bahwa aksi yang semula dijadwalkan dimulai pukul 10.00 WIB, dipercepat menjadi 08.30 WIB karena massa telah memadati lokasi sejak pagi.
Belasan bendera Merah Putih berkibar, diiringi orasi dari berbagai kelompok masyarakat yang membawa persoalan serupa polemik tata kelola hutan dan lahan di Riau.
Dalam spanduk besar yang terlihat di lapangan, Forum Masyarakat Korban Tata Kelola Hutan – Pertanahan menyampaikan tiga tuntutan:
- Menolak relokasi warga yang diklaim tinggal di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
- Mendesak Satgas Penataan Kawasan Hutan (PKH) menunjukkan bukti resmi pengukuhan TNTN sesuai UU No. 41/1999 dan PP No. 44/2004.
- Meminta pemerintah melegalkan lahan dan perkebunan yang telah puluhan tahun dikelola masyarakat.
Di sisi lain, Koalisi Masyarakat untuk Marwah Riau (Kommari) membawa tuntutan yang ditujukan langsung kepada pemerintah pusat.
Mereka meminta Presiden RI menghentikan aktivitas Satgas PKH, PT Agrinas, dan KSO-nya di Riau.
Kelompok ini juga mendesak agar pemangku adat dilibatkan dalam setiap proses pengukuhan kawasan hutan serta menuntut penghormatan terhadap lahan ulayat masyarakat adat.
Aksi besar ini merupakan respons atas berbagai tindakan Satgas PKH, termasuk penyitaan kebun warga yang kemudian dialihkan pengelolaannya kepada PT Agrinas Palma Nusantara.
Untuk menjaga situasi kondusif, Polresta Pekanbaru mengerahkan 1.321 personel gabungan dari kepolisian teritorial, Satpol PP, hingga bantuan personel dari sejumlah daerah, termasuk Pelalawan.
Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Jeki Rahmat Mustika, menjelaskan bahwa rekayasa lalu lintas sudah diterapkan sejak pukul 04.30 WIB.
“Sejak subuh kita sudah melaksanakan pengaturan lalu lintas, sehingga saat aksi dimulai insyaallah berjalan lancar,” ujarnya.
Namun di antara semua dinamika besar yang mewarnai aksi itu, momen sederhana yang dibawakan Bripda Afifah dan Bripda Nela tetap menjadi sorotan.
Di tengah tuntutan, ketegangan, dan suara keras massa, dua polwan muda tersebut menghadirkan suasana yang membuat semua pihak sejenak mengingat bahwa perbedaan suara tetap berada di bawah semangat Merah Putih yang sama.
Momen kecil, tapi bermakna. Dan mungkin, justru itulah yang paling diingat hari itu.





