INGATLAH – Tim eksplorasi Kelana Bentala menuntaskan perjalanan epik yang melintasi dua provinsi, Jambi dan Sumatera Barat (Sumbar), mengungkap serangkaian permata tersembunyi.
Video yang dia unggah di kanal Youtube Arsal Bahtiar pada tanggal (23/12/2023) itu memberikan pengalaman perjalanan ini tak hanya memanjakan lidah dengan kelezatan kuliner lokal, tetapi juga menyajikan keindahan alam yang memukau.
Mulai dari Kebun Teh Kayu Aro yang bersejarah hingga pesona Danau Kembar di Alahan Panjang yang dijuluki Eropa Kecil Sumatera Barat (Sumbar).
Ekspedisi ini menunjukkan bahwa kedua daerah ini menawarkan perpaduan sempurna antara keasrian pegunungan, budaya Minangkabau yang kaya, dan suasana pedesaan yang damai.
Perjalanan dimulai di Kebun Teh Kayu Aro, Kerinci, Jambi. Tim Kelana Bentala terpukau dengan hamparan hijau perkebunan teh yang membentang luas di lereng Gunung Kerinci.
“Kebun teh Kayu Aro ini sangat megah. Ini merupakan salah satu kebun teh tertua di dunia, dimulai sejak masa kolonial Belanda pada tahun 1925,” ujar Arsal Bahtiar salah satu anggota tim.
Perkebunan ini tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah, tetapi juga masih beroperasi dan mengekspor teh hingga hari ini.
Saat cuaca cerah, pengunjung berkesempatan melihat pemandangan gagahnya Gunung Kerinci yang menjulang tinggi, menjadikannya latar belakang sempurna untuk fotografi.
Di tengah keindahan Kayu Aro, salah satu anggota tim mencoba pengalaman menerbangkan drone FPV (First Person View) dari dalam mobil yang sedang bergerak.
“Rasanya cukup menantang dan menegangkan. Mobil bergoyang karena jalanan yang tidak selamanya mulus, membuat saya cukup pusing dan agak sulit mengontrol drone-nya. Tapi, pemandangan kebun teh seluas ini dari udara benar-benar membuat kagum,” katanya.
Menyusuri Jejak Minangkabau di Nagari Seribu Rumah Gadang
Dari Jambi, perjalanan dilanjutkan menuju Sumatera Barat, tepatnya di Nagari Seribu Rumah Gadang, Kabupaten Solok Selatan.
Meskipun dinamakan “Seribu”, kawasan ini memiliki 174 rumah gadang otentik, di mana setiap rumah mewakili suku yang ada di Minangkabau.
Rumah Gadang, yang merupakan pusaka dan rumah adat kebanggaan masyarakat Minangkabau, menjadi wajah dari adat dan budaya asli Minang.
Kawasan ini menjadi destinasi wajib bagi wisatawan yang ingin menapaki sejarah dan arsitektur tradisional.
Solok Rajo, Surganya Pencinta Kopi dan Glamping
Tujuan berikutnya adalah Solok Rajo, sebuah perbukitan di Solok yang dikenal dengan kopi kelas dunia.
Tim singgah di Solok Rajo atas rekomendasi untuk bertemu Bang Tengku Firmansyah, pengelola kawasan ini.
“Kami bergerak di industri kopi dari hulu, mulai dari pemberdayaan petani, proses panen, hingga dikirim,” jelas Bang Tengku.
Berawal dari permintaan peminat kopi yang ingin menginap di kebun, Solok Rajo kini menawarkan konsep camping dan glamping yang unik.
Pengunjung dapat menikmati kopi langsung dari perkebunan sambil diselimuti kabut tipis dan langit temaram, sebuah paket komplit untuk pengalaman wisata edukasi dan relaksasi.
Kehangatan Malam dengan Sajian Khas Alahan Panjang
Malam di Solok Rajo semakin tak terlupakan berkat kejutan dari Firmansyah, ayam bakar khas Alahan Panjang.
“Yang membedakan ayam bakar ini dengan yang lain adalah bumbu-bumbunya ditanam dan tumbuh di alamnya Sumatera Barat, dibakar langsung di Padang, dan memiliki resep rahasia ala dari Amak,” ungkap Firmansyah.
Suasana makan bersama yang hangat diperkaya dengan candaan khas dan tantangan untuk menambah porsi, membuat anggota tim merasa disambut layaknya keluarga.
Alahan Panjang, Pesona Danau Kembar yang Terlihat Seperti Eropa
Inti dari eksplorasi ini adalah Alahan Panjang, kawasan di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang dijuluki Eropa Kecil karena suasana sejuknya.
Kawasan ini menawan dengan perpaduan keasrian alam dan sentuhan kontinental, berlokasi di antara pegunungan Kerinci dan Bukit Barisan. Suhu di malam hari bahkan dapat menyentuh 14 derajat Celcius.
Daya tarik utamanya adalah Danau Kembar, Danau di Atas (Danau di Ateh) dan Danau di Bawah, salah satu dari sedikit danau kembar di dunia.
Pagi di Alahan Panjang dimaksimalkan dengan menginap di kabin cantik tepi Danau Di Ateh dan mencoba olahraga air paddle board sambil menikmati pemandangan Gunung Talang yang diselimuti kabut tipis.
Menyibak Misteri di Danau di Bawah dan Legenda Naga
Setelah puas di Danau di Atas, tim bergeser ke Danau di Bawah yang konon memiliki pesona lebih misterius. Warga lokal percaya di dasar danau bersemayam naga raksasa yang menjaganya.
Legenda Minangkabau menyebutkan bahwa kedua danau ini terbentuk setelah seorang tokoh hebat membunuh naga tersebut.
Perjalanan ditutup dengan mendaki Gunung Talang melalui jalur baru via Bukit Bule. Jalur yang terbilang masih asri dengan hutan lumut ini relatif lebih landai.
“Dari titik Cadas, kita bisa menikmati pemandangan luar biasa, mulai dari Hutan Mati, keindahan Danau Kembar, hingga deretan pegunungan yang memayungi Pulau Sumatera,” tutup anggota tim Kelana Bentala saat menyaksikan pemandangan dari ketinggian. (*)





