INGATLAH.COM – PSIM Yogyakarta jadi salah satu kejutan terbesar di BRI Super League 2025/26. Berstatus tim promosi, Laskar Mataram justru langsung menembus papan atas klasemen.
Sampai pekan ke-7, PSIM sudah mengoleksi 12 poin dari tiga kemenangan, tiga imbang, dan satu kekalahan. Mereka kini duduk di posisi kedua klasemen sementara, hanya di bawah Borneo FC.
Hasil itu makin istimewa karena didapat dengan menahan imbang Persib dan Arema, mengalahkan Persebaya di Surabaya, hingga menumbangkan Bali United 3-1. Hebatnya lagi, PSIM belum sekalipun kalah di laga tandang.
Apa resep mereka? Setidaknya ada tiga faktor kunci yang bikin PSIM melesat musim ini:
Pelatih Jean-Paul van Gastel jadi otak di balik kebangkitan PSIM.
Ia berani memainkan formasi berbeda sesuai lawan, dari 4-3-3 ke 4-2-3-1. Skema ini bikin PSIM susah ditebak.
“Kalau kita bisa menang, artinya kita tidak kalah. Tim saya sudah mengikuti prinsip itu,” kata pelatih asal Belanda itu.
Ia mengatakan, regenerasi PSIM berjalan mulus. Nama-nama muda seperti Cahya Supriadi jadi motor permainan dengan agresivitas tinggi.
Mereka berpadu dengan pemain senior seperti Reva Adi dan Ze Valente yang memberi pengalaman dan ketenangan.
“Sekarang kita berada di gelombang naik. Tapi saat turun pun, itu tidak membuat saya jadi pelatih yang berbeda,” ujar van Gastel.
Kemudian, lebih lanjut dikatakannya, Atmosfer Stadion Sultan Agung jadi energi tambahan.
Brajamusti dan The Maident selalu hadir penuh semangat. Dukungan itu bikin pemain tampil lebih disiplin dan tak mau mengecewakan.
“Yang terpenting konsistensi. Kami berusaha main di level tertentu di setiap laga,” tegas van Gastel.
Dengan kombinasi strategi matang, energi pemain muda, dan dukungan suporter fanatik, PSIM kini bukan sekadar tim promosi. Mereka sudah layak disebut pesaing serius di papan atas.





