INGATLAH.COM – Performa AC Milan di musim ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan mereka tanpa kehadiran di kompetisi Eropa.
Tim asuhan Stefano Pioli mungkin melihat keberhasilan Napoli musim lalu sebagai contoh bahwa absen dari panggung Eropa bisa menjadi keuntungan. Namun, jika melihat lebih dekat sejarah klub sendiri, keraguan justru muncul.
Hilangnya Daya Tarik dan Faktor Finansial
Tentu saja, tidak ada klub yang ingin absen dari kompetisi Eropa. Namun, penting untuk melihat bagaimana ketiadaan Liga Champions atau bahkan Liga Europa memengaruhi AC Milan secara historis.
Salah satu dampak terbesar adalah hilangnya daya tarik klub di mata pemain bintang.
Contoh nyata adalah kasus Manuel Akanji. Meskipun kesepakatan sudah tercapai dengan Milan, sang bek pada akhirnya memilih bergabung dengan Inter Milan.
Alasannya jelas, partisipasi Inter di Liga Champions dan penawaran gaji yang lebih tinggi, yang tidak dipungkiri bisa didapatkan dari pemasukan kompetisi Eropa.
Dari sisi finansial, perbedaan antara musim yang dihiasi kompetisi Eropa dan yang tidak sangatlah signifikan bagi anggaran klub.
Tanpa pendapatan besar dari Liga Champions, penjualan pemain bintang seperti Tijjani Reijnders bisa menjadi suatu keharusan untuk menyeimbangkan neraca keuangan.
Hal ini tentunya akan menjadi dilema jika Milan ingin mempertahankan skuad terbaik mereka.
Belajar dari Masa Lalu
Masa lalu Milan menunjukkan bahwa absennya mereka dari kompetisi Eropa selalu menimbulkan konsekuensi.
Absen di kompetisi Eropa tidak hanya berarti kehilangan pendapatan, tetapi juga berpotensi memengaruhi reputasi dan daya saing klub dalam jangka panjang.
Meskipun demikian, ada pandangan yang menyebut bahwa fokus penuh pada liga domestik, seperti yang dilakukan Napoli, dapat menjadi kunci kesuksesan. Namun, bagi AC Milan, hal ini bisa menjadi pedang bermata dua.
Absennya di kompetisi Eropa harusnya menjadi kesempatan untuk membenahi diri, tetapi jika tidak diiringi dengan strategi yang tepat, hal tersebut justru bisa menjadi bumerang.
Apakah AC Milan akan mampu bangkit dan membuktikan bahwa mereka bisa sukses tanpa panggung Eropa? Atau justru keraguan yang muncul dari sejarah akan menjadi kenyataan? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. (*)





