INGATLAH – Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya menjaga keharmonisan kehidupan beragama di tengah keberagaman etnis dan budaya yang ada di Sumbar.
“Sumatera Barat telah lama hidup dalam harmoni keagamaan, meskipun terdapat perbedaan agama dan budaya di tengah masyarakat,” ujar Mahyeldi usai menghadiri pelantikan Pengurus Ittihad Persaudaraan Imam Masjid tingkat kabupaten dan kota di Padang, Minggu (16/2/2025).
Dari total 5,75 juta jiwa penduduk Sumbar, sebanyak 97,56 persen merupakan Muslim. Meski demikian, Mahyeldi memastikan bahwa pemeluk agama lain tetap dapat menjalankan ibadah dengan aman dan nyaman.
Keberadaan rumah-rumah ibadah yang tersebar di 19 kabupaten dan kota menjadi bukti konkret komitmen pemerintah dalam menjamin kebebasan beragama.
“Penganut agama non-Muslim bebas melaksanakan ibadah dan berinteraksi sosial tanpa ada gangguan dari pihak manapun,” tegasnya.
Filosofi Minangkabau sebagai Landasan Toleransi
Mahyeldi menjelaskan bahwa harmoni antarumat beragama di Sumbar lahir dari filosofi adat Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (adat bersendikan agama, agama bersendikan Al-Qur’an).
Filosofi ini membentuk budaya gotong royong, saling menghargai, serta sikap adil dan sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat.
Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kenyamanan beribadah, Pemprov Sumbar telah mengalokasikan dana hibah sebesar Rp112,5 miliar untuk pembangunan dan renovasi rumah ibadah sejak 2021 hingga 2024.
“Kami ingin memastikan bahwa masyarakat dapat beribadah dengan nyaman dan tenang, serta rumah ibadah memiliki fasilitas yang memadai,” jelasnya.
Tak hanya itu, Pemprov Sumbar juga menunjukkan kepeduliannya terhadap marbot atau garin masjid dengan menanggung biaya BPJS Kesehatan mereka melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).
Selain itu, DPRD Sumbar turut mengambil peran dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk dengan memberikan bantuan dana bagi pelatihan mubaligh serta mendukung pendidikan anak-anak yang menimba ilmu di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) melalui dana pokok pikiran.
Dengan berbagai kebijakan tersebut, Mahyeldi berharap Sumbar tetap menjadi contoh daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan keberagaman, serta mampu menjaga stabilitas sosial yang harmonis. (*)





