Berita

Dampak PMK, Inseminasi Buatan di Padang Pariaman Menurun hingga 12 Ribu Dosis pada 2024

×

Dampak PMK, Inseminasi Buatan di Padang Pariaman Menurun hingga 12 Ribu Dosis pada 2024

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi sapi. (Foto: Antaranews)

INGATLAH – Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mencatat realisasi inseminasi buatan (IB) atau kawin suntik terhadap ternak sapi dan kerbau pada tahun 2024 mengalami penurunan menjadi sekitar 12 ribu dosis.

Angka ini menurun sekitar 3 ribu dosis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya akibat penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK).

“Terjadi penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena PMK berdampak pada jumlah dosis IB yang disuntikkan,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Padang Pariaman, Zulkhailisman, di Parik Malintang, Sabtu (15/2/2025).

Menurutnya, pada periode 2015 hingga 2022, petugas IB di Padang Pariaman rata-rata dapat menyuntikkan sekitar 15 ribu dosis sperma jantan kepada ternak betina setiap tahunnya.

Namun, meningkatnya kasus PMK menyebabkan banyak ternak mengalami gangguan kesehatan, yang berdampak pada penurunan birahi atau keinginan kawin.

“Jika ternak mengalami demam, birahinya akan terganggu. Bahkan jika ternak menunjukkan tanda birahi, peternak dan petugas IB tetap enggan melakukan inseminasi karena kondisi kesehatannya yang tidak stabil,” jelasnya.

Baca Juga  Scoopy Velocreativity, Ajang Seru Komunitas Pecinta Honda di Kota Padang

Inseminasi Buatan Kini Berjalan Secara Swadaya

Zulkhailisman menambahkan bahwa program IB sebelumnya dibiayai oleh pemerintah pusat melalui APBN, termasuk penyediaan sarana dan prasarana.

Namun, dalam dua tahun terakhir, program ini dijalankan secara swadaya, sehingga biaya pelaksanaannya kini dibebankan kepada peternak.

“Petugas IB sekarang harus membeli bibit dan peralatan sendiri, tidak lagi dibiayai pemerintah,” ujarnya.

Biaya inseminasi buatan pun bervariasi tergantung pada jenis sperma yang digunakan dan lokasi ternak. Namun, secara umum, peternak harus mengeluarkan biaya sekitar Rp100 ribu per ekor.

Saat ini, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Padang Pariaman memiliki 28 petugas IB, yang terdiri dari 22 petugas swadaya (non-Aparatur Sipil Negara) dan enam orang Pegawai Negeri Sipil yang juga merangkap sebagai petugas IB.

Baca Juga  Bertengkar dengan Pacar, Seorang Perempuan di Padang Nekat Bakar Diri

Populasi Sapi Naik, Populasi Kerbau Terus Menurun

Meskipun jumlah inseminasi buatan menurun, populasi ternak sapi di Padang Pariaman justru mengalami peningkatan.

Pada 2024, jumlah sapi tercatat meningkat sekitar 472 ekor, dari 42,2 ribu ekor pada 2023 menjadi 42,6 ribu ekor.

“Secara nasional, populasi sapi memang mengalami peningkatan sekitar 1 hingga 3 persen. Di Padang Pariaman, peningkatan tercatat sekitar 1,5 persen,” ujar Zulkhailisman.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada populasi kerbau. Pada 2024, jumlahnya hanya mencapai 11.121 ekor dan terus mengalami penurunan akibat tingginya angka pemotongan saat momen Lebaran.

“Peningkatan permintaan daging kerbau saat Lebaran menyebabkan populasinya terus berkurang,” tuturnya.

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman terus berupaya mendorong peternak agar tetap menjalankan program inseminasi buatan meskipun dilakukan secara swadaya.

Selain itu, langkah pencegahan PMK juga terus diperketat untuk memastikan kesehatan ternak tetap terjaga. (*)