INGATLAH.COM – Anak sulung dari pasangan lansia Hans Tomasoa dan Rita Tomasoa, Aris Tokra Tomasoa, akhirnya muncul memberikan klarifikasi terkait tuduhan penelantaran orang tua hingga menyebabkan kematian mereka.
Jasad Opa Hans dan Oma Rita ditemukan membusuk di kamar rumahnya di Jonggol, Bogor, pada Selasa, 16 Juli 2024. Pasangan lansia ini hidup berdua, dengan kondisi Oma Rita yang mengalami stroke.
Aris mengakui kesalahannya karena jarang berkomunikasi dengan orang tuanya. Namun, ia membantah tuduhan bahwa dirinya dan saudara-saudaranya telah menelantarkan kedua orang tua mereka.
“Saya mengaku salah karena saya jarang berkomunikasi dengan orang tua, itu kesalahan saya,” kata Aris melalui TikTok @storywartawanhiburan, Minggu (21/7/2024).
Aris juga meminta agar kedua adiknya, Bradley dan Ciro Juliano, tidak disalahkan.
“Adik-adik saya yang paling rutin berkomunikasi dan sering menjenguk orang tua,” tambahnya.
Aris mengakui bahwa dirinya lah yang paling jarang menjenguk dan berkomunikasi dengan orang tua.
“Saya yang paling jarang datang ke sana. Ibu saya stroke pada tahun 2012, dan selama itu saya merawatnya,” jelas Aris.
Terakhir kali ia menjenguk orang tuanya adalah pada tahun 2022. “Saya rutin mengantar ibu ke rumah sakit hingga tahun 2022,” katanya.
Meski begitu, Aris menegaskan bahwa hubungan keluarganya baik-baik saja.
“Hubungan keluarga kami biasa-biasa saja, hanya saja saya jarang berkomunikasi,” terangnya.
Ia berharap masalah ini tidak diperpanjang lagi dan berterima kasih kepada warga gereja yang telah membantu mengurus kematian orang tuanya.
“Saya sangat berterima kasih kepada warga gereja dan masyarakat yang membantu,” jelasnya.
Aris juga mengaku difitnah karena disebut menelantarkan orang tua hingga meninggal. Didampingi pengacaranya, Andreas Sapta Finady, Aris menyayangkan oknum-oknum yang memfitnahnya tanpa konfirmasi.
“Kami sangat menyayangkan narasi pencemaran nama baik dan fitnah ini,” kata Andreas.
Andreas membantah bahwa anak-anak Hans dan Rita tidak menjenguk orang tua mereka sejak tahun 2017.
“Narasi bahwa anak-anak mendiang tidak pernah menemui orang tua sejak tahun 2017 itu tidak benar,” jelasnya.
Andreas juga menegaskan bahwa Aris sempat tinggal bersama orang tuanya sejak rumah mereka dibeli pada tahun 2018, namun kemudian pindah karena mendapatkan pekerjaan.
“Perekonomian Pak Aris sebagai sopir dan Pak Bradley yang juga sedang tidak stabil menjadi salah satu faktor,” ungkap Andreas.
“Ciro, anak bungsu, yang paling sering berkunjung karena tinggal di Jakarta,” sambungnya.
Pada tanggal 13 Juli 2024, Aris menemui pengurus gereja dan RT untuk klarifikasi, namun setelah viral, muncul narasi yang memfitnah keluarga ini.
Andreas menegaskan jika ada unsur fitnah dan kebohongan, pihaknya akan menempuh jalur hukum.
“Jika kami menemukan adanya unsur fitnah, kami tidak akan segan-segan menempuh jalur hukum,” tegasnya.
Andreas juga meminta agar foto-foto dan video mendiang segera diturunkan dari media sosial. (*)





